Perkembangan agen artificial intelligence (agentic AI) tidak sekadar bicara efisiensi kerja. Kehadiran AI ‘berlevel’ lebih tinggi ini membuka pintu bagi sebuah demokrasi kreatif baru, atau kini disebut sebagai Renaisans Pengembang.
Vice President of Design untuk Amazon Web Services (AWS) Solutions, Hector Ouilhet Olmos, dalam wawancara eksklusif dengan Medcom.id di ajang re: Invent 2025 menggunakan analogi sejarah seni. Olmos menggambarkan bagaimana akses terhadap alat yang lebih mudah selalu melahirkan keragaman ekspresi.
Renaisans seni berawal dari ekspresi rutin melompat ke Renaisans, hingga akhirnya melahirkan aliran seni impresionisme hingga surealisme. Mereka semua, kata Olmos, lahir karena akses ke kuas, pahat, atau kertas.
Kehadiran generative AI dan agentic AI mebuat tren vibe coding, di mana developer hanya cukup fokus pada flow ide tanpa mengkhawatirkan teknis programming, memicu kehadiran beragam aplikasi yang menunjang kehidupan.
Ia menekankan bahwa AI agen tidak akan menggantikan pengembangan perangkat lunak tradisional yang membutuhkan keandalan tinggi. Namun, AI dapat menciptakan lapangan ekspresi yang baru sama sekali.
Sebagai bukti, Ouilhet menceritakan pengalaman adik perempuannya, seorang koki di Kanada. Adiknya yang tak memiliki latar belakang pengetahuan teknologi teknis bisa membangun aplikasi di ponselnya untuk membantu anak-anak disabilitas berkomunikasi.
“Tapi dengan alat dan kode yang bisa diakses, dia menerjemahkan rasa ingin tahunya menjadi solusi nyata yang membuatnya dan penggunanya bahagia,” kisah Olmos.