Industri gim di Indonesia terus berkembang pesat, namun seiring dengan itu, pengawasan terhadap konten yang dikonsumsi masyarakat juga semakin diperketat. Melalui sistemĀ IGRSĀ (Indonesia Game Rating System), pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap gim yang beredar di tanah air memiliki klasifikasi usia yang tepat.
IGRS kini menjadi standar wajib bagi para pengembang dan penerbit gim yang ingin memasarkan produknya secara resmi di Indonesia. Lantas, apa sebenarnya IGRS dan apa yang membedakannya dengan sistem rating global seperti PEGI dari Eropa dan ESRB dari Amerika?
Apa Itu IGRS?
IGRS adalah sistem klasifikasi permainan interaktif elektronik berdasarkan kelompok usia pengguna. Sistem ini dikelola langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Tujuannya adalah untuk melindungi konsumen, terutama anak-anak, dari konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka.
Perlindungan Konsumen sebagai Prioritas
Secara fundamental, IGRS, ESRB, dan PEGI memiliki titik temu yang sama, yaitu perlindungan anak. Ketiganya dirancang sebagai instrumen transparansi bagi orang tua agar dapat memilih konten yang sesuai dengan perkembangan usia. Ketiganya juga menggunakan simbol kategori usia (seperti 3+, 13+, atau 18+) serta deskriptor konten yang merinci unsur kekerasan, bahasa kasar, hingga transaksi dalam aplikasi (in-game purchases).
Logika Rating dan Sentuhan Budaya Lokal
Perbedaan paling mencolok terletak pada pendekatan budaya. IGRS cenderung lebih konservatif dalam memandang konten sensitif dibandingkan PEGI atau ESRB.
Sebagai contoh, sebuah gim yang menampilkan penggunaan alkohol atau pakaian terbuka mungkin hanya mendapatkan rating 15+ di Eropa (PEGI). Namun, di Indonesia, melalui IGRS, konten tersebut bisa dikategorikan sebagai 18+ karena pertimbangan nilai budaya dan norma lokal yang berlaku di tanah air.
Mekanisme Verifikasi: Digital vs Uji Petik
Dari sisi teknis pengajuan, terdapat perbedaan efisiensi yang signifikan:
ESRB & PEGI: Terintegrasi dengan International Age Rating Coalition (IARC). Pengembang cukup mengisi satu kuesioner digital, dan algoritma akan langsung mengeluarkan rating untuk berbagai wilayah.
IGRS: Menekankan pada verifikasi resmi oleh pemerintah (Komdigi). Selain pengembang mengisi self-assessment, tim penilai dari pemerintah juga melakukan uji petik (game testing) untuk memastikan bahwa isi gim benar-benar sesuai dengan jawaban kuesioner.