Setiap Perusahaan Retail Perlu Menjadi Perusahaan Teknologi

Perusahaan retail saat ini menyambut musim belanja akhir tahun dengan optimisme yang baru seiring membaiknya sentimen konsumen pasca periode ketidakpastian akibat kebijakan tarif dan perdagangan.

Akan tetapi, optimisme saja tidak cukup. Dalam ekonomi berbasis data saat ini, perusahaan retail yang sukses adalah mereka yang berpikir dan bertindak layaknya perusahaan teknologi.

Retail modern berjalan berdasarkan data, mulai dari pengelolaan inventory hingga deteksi penipuan, tiap interaksi pelanggan menghasilkan informasi yang dapat memperkuat kinerja atau justru menciptakan risiko. Selama momentum hari belanja seperti Black Friday dan Cyber Monday, volume data berlipat ganda dan risiko semakin tinggi.

Perusahaan retail yang memprioritaskan visibilitas dan kontrol sebagai pusat praktik data mereka akan lebih siap untuk meningkatkan skala, menjaga keamanan, dan menghadirkan pengalaman yang mulus, yang diharapkan oleh pelanggan.

Menurut X-Force 2025 Threat Intelligence Index IBM, kawasan Asia Pasifik (APAC) menyumbang 34% dari seluruh serangan siber global, tertinggi dibandingkan kawasan mana pun. Selain itu, Microsoft Digital Defense Report 2025  menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-12 negara dengan aktivitas siber tertinggi di Asia Pasifik, menandakan begitu rentannya bisnis lokal terhadap semakin banyaknya  ancaman digital yang canggih.

Setiap klik, transaksi, dan interaksi digital membawa peluang dan risiko. Ini berarti bahwa dalam dunia persaingan yang sangat ketat dan ekspektasi pelanggan yang berkembang pesat, perusahaan retail yang berkembang pesat adalah mereka yang berpikir dan beroperasi seperti perusahaan teknologi.

Meningkatkan Skala di Musim Puncak

Tantangan terbesar dari musim puncak liburan adalah skalabilitas, toleransi terhadap kegagalan, dan kurangnya tenaga staf. Lalu lintas online dan di toko seringkali melonjak beberapa kali lebih tinggi dibandingkan dengan waktu normal, dan peningkatan beban ini dapat memicu gangguan atau perlambatan yang sulit untuk dipulihkan. Gangguan itu sangat mahal biayanya, mulai dari hilangnya pendapatan hingga terkikisnya kepuasan pelanggan saat mereka tidak dapat menyelesaikan pembelian.

Tekanan ini sangat terasa pada sistem pemrosesan transaksi dan deteksi penipuan, yang harus mampu menahan lonjakan volume yang masif. Agar tetap tangguh, sistem manajemen data harus skalabel dan memiliki toleransi terhadap kegagalan untuk menangani beban tambahan dan mencegah downtime yang bisa menyebabkan pelanggan mengabaikan keranjang belanja mereka.

Enterprise data lineage akan membantu mengidentifikasi gangguan pada data pipeline dengan cepat, sehingga tim dapat memulihkan operasional dengan gangguan minimal. Adanya tinjauan yang menyeluruh terhadap akses dan aktivitas data di seluruh lingkungan hybrid cloud dan multi-cloud lebih lanjut menghilangkan titik buta (blind spot) dan memastikan informasi sensitif terus dipantau dan dilindungi.

Pertahanan Terhadap Peningkatan Risiko Siber

Perusahaan retail adalah target utama serangan siber selama musim liburan karena tingginya volume transaksi dan sensitifnya data yang mereka miliki. Para penyerang mencari informasi pribadi yang dapat mereka jual di forum dark web. PwC Voice of the Consumer Survey 2024 mencatat bahwa 74% konsumen di Asia Pasifik khawatir tentang privasi dan data yang dibagikan, dan 50% merasa tidak nyaman berbelanja melalui media sosial.

Di Indonesia, 85% konsumen dapat menoleransi layanan digital yang lebih lambat selama mereka dapat menikmati layanan yang lebih baik dan memastikan data mereka aman. Bagi mereka, pengalaman digital tidak harus cepat, namun juga harus aman, adil, dan transparan.

Penipuan dan pencurian juga melonjak karena para pelaku kejahatan memanfaatkan gangguan selama musim liburan yang sibuk. Permukaan serangan menjadi sangat luas, toko retail, pusat distribusi, platform online, dan bahkan truk pengiriman barang sudah semakin terhubung melalui perangkat IoT.

Kerentanan pada perangkat yang kurang aman dapat menjadi titik masuk bagi penyerang. Pada saat yang sama, banyak perusahaan retail bergumul dengan sistem lama (Legacy) mereka dan margin yang tipis, sehingga sulit untuk mengikuti perkembangan ancaman. Dalam lingkungan seperti itu, setiap pelanggaran akan menggerus kepercayaan konsumen dan nilai brand, mengubah keamanan siber dari masalah IT menjadi prioritas bisnis.

Author: 9v4lh3im

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *