Transformasi digital dan pengadopsian teknologi-teknologi canggih seperti AI, cloud, dan 5G, telah menyebabkan ledakan data dan melonjaknya konsumsi data di Indonesia. Di tengah tren ini, pusat data memainkan peranan yang sangat krusial.
“Perusahaan-perusahaan di Indonesia tengah memperluas layanan digital mereka dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga kebutuhan infrastruktur ikut berubah dengan cepat,” ucap Kevin Fang, CMO of ZTE Indonesia.
Menjawab tantangan ledakan data, ZTE Indonesia menghadirkan solusi pusat data modular dan prefabricated, yang dirancang dengan fleksibilitas, efisiensi, dan kecepatan, untuk kebutuhan berbagai industri, termasuk keuangan, kesehatan, dan retail. Arsitektur pusat data yang dirancang oleh ZTE dapat mendukung beban kerja komputas umum maupun berbasis AI.
Melalui teknologi pendinginan yang canggih, solusi pusat data ZTE disebut mampu mencapai nilai PUE (Power Usage Effectiveness) 1,1. Kevin mengatakan hal ini menghasilkan efisiensi hingga 30% lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Solusi ini juga dapat terintegrasi dengan sumber daya terbarukan seperti tenaga surya.
Selain itu, dengan sub-modul prefabricated, pusat data bisa dipasang hingga 40% lebih cepat dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Keuntungan lainnya, perusahaan dapat memangkas biaya di awal dan kebutuhan tenaga kerja hingga 50%, sekaligus mempercepat waktu implementasi hingga 60%.
Pendekatan modular dan prefabricated juga cocok untuk perusahaan berskala kecil atau UKM. Desain pusat data modular mengintegrasikan seluruh subsistem yang diperlukan, mulai dari kabinet, pendinginan, dan distribusi daya, hingga baterai dan sistem manajemen, ke dalam satu arsitektur yang ringkas.
“Dengan dukungan kepadatan daya kabinet IT hingga 24 kW, solusi ini cukup fleksibel untuk melayani kebutuhan UKM di berbagai industri seperti e-commerce, fintech, telekomunikasi, bahkan layanan pemerintahan,” kata Kevin.
Keberlanjutan di jantung inovasi pusat data
Kevin Fang mengungkapkan bahwa ZTE tengah mengembangkan pusat data ramah lingkungan berkapasitas 20MW. “Di Indonesia, ZTE selalu menyesuaikan proyek-proyek kami dengan standar sertifikasi LEED (Leadership in Energy and Environmental Design),” ucap dia. Hasilnya, proyek-proyek ZTE di Indonesia telah mencapai penghematan energi sebesar 23% dibandingkan pembangunan konvensional.
Semua itu dimungkinkan melalui kombinasi sistem pendinginan cerdas dan solusi energi ramah lingkungan. Salah satu inovasinya adalah metode hybrid yang mengandalkan teknologi liquid cooling untuk menangani 70-80% panas yang dihasilkan oleh server, sementara 20-30% sisanya dikelola melalui pendingin udara. Server yang bekerja dengan cara hybrid ini terbukti dapat mengurangi konsumsi daya hingga 80W per unit dan menurunkan kebisingan operasional hingga 15dB.
Kevin mencontohkan server R5300 G5 X86 berbasis prosesor Intel Xeon terbaru yang memadukan skalabilitas tinggi dengan pemantauan cerdas untuk memaksimalkan efisiensi tanpa mengorbankan keandalan. Termasuk solusi kontainer prafabrikasi AIDC yang mampu menjawab tantangan meningkatnya densitas daya dan kebutuhan transformasi hijau, memungkinkan pembangunan yang lebih cepat dan lebih ramah lingkungan.
Menurut Kevin, hingga saat ini solusi ramah lingkungan ZTE telah diterapkan di lebih dari 30 jaringan di seluruh dunia, mencakup lebih dari 1,5 juta lokasi, dan 250.000 kabinet pusat data. Secara keseluruhan, solusi ini menghemat lebih dari 10 miliar KWh listrik setiap tahun, yang berkontribusi langsung terhadap target pengurangan emisi global maupun lokal.
Siap menangani lonjakan beban kerja AI
Pesatnya pengadopsian AI di Indonesia disikapi oleh ZTE dengan berfokus pada tiga pilar: infrastruktur komputasi yang tangguh, optimasi algoritma, dan kolaborasi perangkat edge-terminal.
ZTE menghadirkan AI engine AiCube yang didukung oleh model-model terdepan seperti DeepSeek, Llama, dan Qwen. Dikombinasikan dengan server R5300 G5 dan infrastruktur hyper-converged, ZTE menyediakan daya komputasi, penyimpanan, dan skalabilitas yang dibutuhkan untuk mendukung beban kerja berbasis AI di berbagai industri, mulai dari telekomunikasi hingga keuangan dan layanan publik.
Solusi prafabrikasi kontainer AI Data Center (AIDC) dari ZTE juga dirancang dengan struktur rangka atas–bawah dengan ketinggian lantai 5,75 meter, yang memungkinkan penerapan fleksibel antara server berpendingin udara 8 kW atau kabinet AI liquid-cooled 40 kW. Kemampuan dual mode ini memungkinkan perusahaan menjalankan beban kerja umum maupun aplikasi AI yang intensif secara mulus dalam satu solusi yang sama, baik di sisi edge atau pusat data inti.